create a site








Pada suatu saat pertengahan abad ke-20 bentuk perahu palari mulai berubah: Perahu-perahu itu tidak lagi dibangun dengan meninggikan sebuah lambung pajala, tetapi dari awal dibuat setinggi maunya sang pemesan.  Dengan itu, geladak rendah haluan salompong yang telah menjadi salah satu ciri khas perahu tipe padewakang dan palari itu menghilang; dan serambi geladak belakang, ambeng, tidak lagi 'bertingkat memanjang' ke atas buritan lambung seperti yang terdapat pada kedua jenis perahu itu.  Lambung baru ini dinamakan jonggolang – dan bila dilengkapi dengan tali-temali sekunar Sulawesi maka tipe perahu itu mulai dijuluki dengan nama tipe layarnya, 'pinisi'.







Proses itu terlihat dalam surat-surat ukur perahu keluaran kesyahbandaran asal tahun 1950 s/d 1970-an, “masa jaya perahu pinisi” (1, hlm. 147): Kata yang paling mirip dengan ‘pinisi’ dalam dokumen-dokumen itu berbunyi ‘pinis’ (atau, dalam dokumen asal tahun 1950/60-an, ‘phenis’), dan pada umumnya didahului kata ‘layar’.  Sini-situ ‘pinis’ dan ‘phenis’ itu ditambah ‘biasa’, ‘asli’, ‘dua tiang’ dsb.; adapun istilah-istilah seperti ‘palari’, ‘salompong’ atau ‘janggolan’ serta berbagai kombinasi dari kata-kata itu, ya bahkan satu ‘palari janggolan (pinis biasa)’. “Kata yang paling banyak digunakan [dalam dokumen-dokumen ini] ialah ‘palari salompong’ dan ‘pinis’/‘phenis’[, dan] tidak terdapat satu pun ‘palari pinis’” (2, hlm. 4).

Prangko 'Palari', Singapura 1980.

'Nama baru' sekunar Sulawesi ini tidak langsung menyebar dengannya: Di, misalnya, Singapura, salah satu tujuan utama pelaut Sulawesi masa itu, kata 'pinisi' sebagai julukan atas 'perahu Bugis' baru muncul pada tahun 1986 dalam berita-berita koran akan pelayaran Pinisi Nusantara ke Vancouver – semua pemberitaan sebelumnya menyebutkan perahu-perahu Sulawesi yang meramaikan pelabuhannya itu sebagai palari.

Bagaimana pun, khalayak ramai Indonesia sudah mengenali pinisi, selambat-lambatnya, sejak 1960:

Publikasi tentang 'Perlombaan Perahu Lajar Pinisi, 17 Agustus 1960 - 1961'; Dep. Perhubungan Laut, Jakarta

Semua perahu peserta kedua lomba 'Kopra Race' tahun 1960 dan 1961 itu adalah perahu berlambung jonggolang: Sebagaimana tergambar dalam catatan kesyahbandaran di atas, saat itu palari jonggolang telah menjadi perahu 'pinis[i] biasa'.  Akan tetapi, belum diketahui kapan dan di mana tipe lambung perahu yang akhirnya dicap pinisi itu diciptakan – suatu soal yang memang menjadi tugas rumah program riset ini.

Anda ingin membantu cari jawabannya? Hubungi Kami!