Sebutan tertua kata 'padewakang' yang kami dapatkan sampai sekarang adalah catatan pada pinggir sebundel surat VOC yang pada tahun 1735 dikirim dari Makassar ke Batavia "per praauw Paduackang".  Akan tetapi, tiada keterangan apa pun tentang bentuk perahu yang mengantar surat-surat itu; dan hal itu sama dengan sekian banyak sebutan dalam berbagai sumber historis lainnya: Perahu padewakang memang digunakan untuk berpatroli Selat Makassar (dan bahkan akhirnya ditangkap oleh orang Mandar ...), mencari tripang di Ceram atau berdagang di Aru atau Ambon, tetapi tidak ada penjelasan lebih lanjut.  Satu-satunya keterangan akan bentuknya asal abad ke-18 yang kami ketahui jadi digabungkan dengan pembuat perahu Sulawesi masa itu, tetapi sepertinya menggambarkan padewakang "orang Buggess" yang dilihat penulisya, seorang nakhoda-avonturir Inggris, di Bengkulu.

bootstrap themes

Deskripsi padewakang 'klasik' yang mungkin paling detil terdapat dalam sebuah tulisan pertengahan abad ke-19: 


"Jenis perahu ini, yang hampir terkecuali berasal dari Celebes dan pulau-pulau di sekitarnya, sepertinya adalah kendaraan laut Bugis yang sebenarnya.  Orang-orang Bugis menggunakannya untuk pelayaran perdagangan jarak jauh, menelusuri seluruh Nusantara sampai Irian Jaya untuk pencaharian teripang, dan bahkan sampai pesisir barat Sumatera.  Karena rancangannya agak kurang baik, [rute pelayaran] perahu-perahu itu wajib mengikuti angin musiman.

Maket perahu padewakang; koleksi Wereldculturen TM 668-123

"[... Sebuah maket asal koleksi Gubernur Jenderal Hindia-Belanda] dibuat di atas sebatang lunas, linggi haluan yang rendah serta linggi buritan yang melengkung. [...] Bagian haluan perahu itu agak rendah dalam air, dan buritannya sangat tinggi [...]. Di dalam bagian buritan terdapat sebuah kamar, terletak di atas dua balok yang memanjang sampai ke linggi buritan.  Geladak di atas kamar itu sedikit melandai ke atas pada bagian buritannya. [Pada] kiri-kanan sisinya [kamar itu ...] terbuka untuk beri akses ke kemudinya. [...] Di depan [kamar itu] terdapat sebatang balok melintang berat yang menjadi penopang tiang buritan [...].  

"Pada sisi depan kayu itu terletak sebuah kamar yang luas di atas geladak dengan selembar pintu di sekat depannya. Kiri-kanan dari atap kamar itu terdapat jalur lorong yang lebar. [...] Di depan kamar tengah itu ada lubang palka yang besar. Pada sisi depan palka itu terdapat balok-balok pemegang tiang utama [...]. Lebih ke arah haluan lagi terdapat dek haluan yang lebih rendah daripada geladak lain [...] yang ditutup ke bagian lambung lain dengan [sebuah sekat dari] papan yang berat."

Gambar padewakang awal abad ke-19; Scheepvaartmuseum Amsterdam # S.0782(17)

Deskripsi geladak haluan itu menunjukkan yang dalam bahasa para pengrajin perahu asal Bontobahari, Konjo, dinamakan salompong – dan menandai bahwa padewakang masa itu dibangun dengan memasang beberapa lembar papan panjang di atas sebuah lambung yang lebih rendah.  Cara merancang perahu ini memang masih disaksikan tahun 1930 pada pembangunan perahu tipe palari.

Bagaimana pun, tulisan yang dikutip di atas itu menggambarkan juga beberapa perbedaan antara padewakang awal dan akhir abad ke-19.  Sekian banyak dari ciri-ciri itu diterapkan pada replika padewakang 'Nur Al-Marege' yang pada tahun 2019/20 dilayarkan ke Australia Utara – dan bahkan terlukis pada gambar sebuah "Kendaran Laut Bersenjata di Teluk Persia" asal pertengahan kedua abad ke-19.  

Anda punya informasi tambahan?  Hubungi kami!