Sementara bentuk lambungnya tetap dipertahankan, pada abad ke-19 layar perahu padewakang itu mulai berubah: Para pelautnya memadukan layar tanja-nya dengan berbagai tipe layar Eropa. Inilah deskripsi sebuah perahu padewakang dengan layar kombinasi itu yang ditumpangi Alfred Wallace, seorang naturalis Inggris, dalam pelayarannya dari Makassar ke Kepulauan Aru pada tahun 1857 (1, hlm. 310ff):
"Andang-andang utama, yang panjangnya hampir seratus kaki, dibentuk dari banyak potongan kayu dan bambu yang diikat dengan rotan secara cerdik. Layar yang dibawa oleh andang-andang ini berbentuk bersegi empat panjang, dan digantung di depan tengahnya, sehingga ketika ujung pendek ditarik ke arah geladak, ujung belakang yang panjang itu menjulang tinggi di udara, dan dengan ini menambah atas pendeknya tiang itu sendiri. [... Layarnya] terbuat dari anyaman, [… dan] dengan dua jib dan satu layar fore-and-aft dari kain kanvas melengkapi [perahu ini].
"[...] Tali-temali dan cara memasangnya pada perahu-perahu ini berbeda secara aneh dengan kapal Eropa, di mana berbagai tali dan andang-andang, meski berjumlah jauh lebih besar, diatur sedemikian rupa agar tidak saling mengganggu. Di sini hal itu memang lain; biarpun tidak ada tambera dan laberang yang merumitkannya, namun hampir tidak ada yang bisa dibuat tanpa lebih dahulu menyingkirkan sesuatu yang lain.
Karena susahnya bermanuver maka layar tanja ini paling cocok untuk pelayaran jarak jauh yang mengikuti arah angin. Memang, jenis layar itu dirancang agar ‘mengangkat’ haluan perahu bila berlayar dengan angin dari belakang, dan lambung perahu padewakang yang bundar dan datar dapat ‘menunggang’ di atas ombak yang datang dari arah buritan. Sebagaimana digambarkan Alfred Wallace, pada abad ke-19 kebanyakan rute dan tujuan pelayaran yang masih dapat disesuaikan dengan siklus angin musiman itu ada di kawasan timur Nusantara: Jarak berlayar di antara pelabuhan di kawasan baratnya tidak sejauh jarak antara pulau-pulau Groote Oost, ‘Timur yang Luas’. Alhasil, sudah pada abad ke-18 sekian banyak pelaut yang beroperasi di Nusantara bagian barat memasang tipe-tipe layar 'berteladan Eropa' yang lebih lincah itu di atas perahu-perahu mereka.