easy website builder





Sementara bentuk lambungnya tetap dipertahankan, pada abad ke-19 layar perahu padewakang itu mulai berubah: Para pelautnya memadukan layar tanja-nya dengan berbagai tipe layar Eropa.  Inilah deskripsi sebuah perahu padewakang dengan layar kombinasi itu yang ditumpangi Alfred Wallace, seorang naturalis Inggris, dalam pelayarannya dari Makassar ke Kepulauan Aru pada tahun 1857 (1, hlm. 310ff):



"Perahu ini dapat membawa sekitar tujuh puluh ton […]. Di haluan, geladaknya bertingkat ke bawah, sehingga [bagian itu] merupakan bagian terendahnya.  Ada dua kemudi besar, tetapi daripada dipasang di tengah buritan, kemudi-kemudi itu digantung di bagian buritan pada balok melintang yang kuat, yang menonjol keluar dua atau tiga kaki di sisi kiri-kanan [...]. Gincir kemudi […] terpasang ke dalam lambung melalui dua pintu bersegi [yang beri akses] ke [kamar di] geladak dalam yang tinggi sekitar tiga kaki, di mana duduk dua pengemudinya. Di bagian buritan itu [ada juga] bilik juragang [dan] di depan bilik itu dan tiang buritannya ada sebuah rumah-rumah kecil beratap jerami […]. 
Di perahu kami terdapat dua tiang, jika bisa disebut tiang, yang merupakan segitiga yang besar. Jika dalam sebuah kapal biasa Anda mengganti tali tamberanya dengan kayu yang kuat, dan mengeluarkan tiangnya, Anda dapat aransemen yang diadopsi di atas sebuah perahu. [...]

Perahu dagang Bugis; Matthes, Benjamin F. dan Schröder, C.A. 1859: Ethnographische Atlas ..., Amsterdam:  Frederik Muller, Gmbr. 16-1.


"Andang-andang utama, yang panjangnya hampir seratus kaki, dibentuk dari banyak potongan kayu dan bambu yang diikat dengan rotan secara cerdik.  Layar yang dibawa oleh andang-andang ini berbentuk bersegi empat panjang, dan digantung di depan tengahnya, sehingga ketika ujung pendek ditarik ke arah geladak, ujung belakang yang panjang itu menjulang tinggi di udara, dan dengan ini menambah atas pendeknya tiang itu sendiri.  [... Layarnya] terbuat dari anyaman, [… dan] dengan dua jib dan satu layar fore-and-aft dari kain kanvas melengkapi [perahu ini].  

Rekonstruksi perahu padewakang dengan layar kombinasi; Burningham, Nick 1987: 'Reconstruction of a Nineteenth Century Makassan Perahu'. The Beagle: Records of the Museums and Art Galleries of the Northern Territory, 4 (1): 120.

"[...] Tali-temali dan cara memasangnya pada perahu-perahu ini berbeda secara aneh dengan kapal Eropa, di mana berbagai tali dan andang-andang, meski berjumlah jauh lebih besar, diatur sedemikian rupa agar tidak saling mengganggu.  Di sini hal itu memang lain; biarpun tidak ada tambera dan laberang yang merumitkannya, namun hampir tidak ada yang bisa dibuat tanpa lebih dahulu menyingkirkan sesuatu yang lain.  


"Bila beropal, layar-layar besar tidak dapat diputar ke arah angin baru tanpa sebelumnya menurukan layar-layar topannya, dan andang-andang layar harus diturunkan dan dilepaskan seluruhnya kalau mau mengadakan manuver itu.  Selain itu, selalu ada tali-tali yang terganggu oleh tali-tali lain, dan semua layarnya (biarpun jumlahnya sesedikit ini) tidak dapat dikembangkan tanpa menutupi sebagian dari permukaannya dengan layar-layar lain. [...] Namun, perahu-perahu [setipe padewakang] sangat disukai bahkan oleh mereka yang pernah memiliki kapal Eropa, karena murahnya dalam biaya awal dan dalam menjaganya; hampir semua perbaikan dapat dilakukan oleh awaknya sendiri, dan sangat sedikit peralatan Eropa diperlukan."

Sebuah perahu berlambung padewakang dengan layar jenis Eropa, 1830-an; Paris, Francois Edmond 1843. Essai sur la construction navale des peuples extra-europeens, Paris: Arthus Bertrand, gmbr. 99.

Karena susahnya bermanuver maka layar tanja ini paling cocok untuk pelayaran jarak jauh yang mengikuti arah angin.  Memang, jenis layar itu dirancang agar ‘mengangkat’ haluan perahu bila berlayar dengan angin dari belakang, dan lambung perahu padewakang yang bundar dan datar dapat ‘menunggang’ di atas ombak yang datang dari arah buritan.  Sebagaimana digambarkan Alfred Wallace, pada abad ke-19 kebanyakan rute dan tujuan pelayaran yang masih dapat disesuaikan dengan siklus angin musiman itu ada di kawasan timur Nusantara: Jarak berlayar di antara pelabuhan di kawasan baratnya tidak sejauh jarak antara pulau-pulau Groote Oost, ‘Timur yang Luas’.  Alhasil, sudah pada abad ke-18 sekian banyak pelaut yang beroperasi di Nusantara bagian barat memasang tipe-tipe layar 'berteladan Eropa' yang lebih lincah itu di atas perahu-perahu mereka.